Dahulu kala, ada dua pemahat hebat yang sangat terkenal, yang satu merasa lebih hebat dari yang lain, tentunya ini membuat persaingan diantara mereka tidak sehat. Untuk mengatasi hal itu, pihak Kerajaan mengundang dua pemahat tersebut untuk berlomba, mereka dimasukkan kedalam ruangan besar dengan tembok-tembok batu mulia pada sebelah sisi kiri dan kanan dindingnya, dinding yang berhadapan, mereka berdua diminta membuat pahatan pada tembok batu mulia tadi. Untuk memisahkan diantara mereka, dibentangkanlah tirai dari kain tebal kedap suara yang sedemikian rupa, sehingga satu diantara mereka berdua tidak bisa saling mengintip dan mendengar dentingan beradunya batu dan peralatan mereka, dengan demikian masing-masing bisa konsentrasi mengerjakan pahatannya.
Atas kesepakatan mereka berdua, mereka diberikan waktu untuk membuat pahatan yang paling indah yang belum pernah mereka buat selama ini pada tembok batu-batu mulia disisi mereka, dan apabila waktu yang sesuai kesepakatan dirasa kurang cukup, maka mereka berdua diberikan waktu tambahan untuk menyempurnakan hasil pahatannya.
Pemahat Pertama, mengerahkan daya upaya dan peralatan terbaiknya untuk membuat pahatan ditembok batu mulia yang disediakan untuknya. Sehari.. dua hari.. tiga hari.. empat hari dan seterusnya.. Pemahat Pertama ini konsentrasi penuh tak mengenal lelah.. hingga akhir waktunya tiba, Pemahat Pertama ini berhasil membuat pahatan yang luar biasa indahnya.. siapapun yang melihatnya pasti tidak akan bisa membantahnya.. sungguh luar biasa indahnya pahatan ini.
Setelah sesuai waktunya, tirai kain tebal dibukanya.. timbulah decak kagum siapapun yang hadir melihat hasil karya mereka.. namun.. lihatlah.. Pemahat Pertama ternyata lebih tercengang lagi dibanding pengunjung.. berdesirlah hatinya.. tepat diseberangnya, Pemahat Kedua menurut pengelihatannya juga telah berhasil membuat pahatan yang lebih indah dari yang dibuatnya.. lebih berkilau dibanding pahatannya.. maka berteriaklah Pemahat Pertama ke pihak Kerajaan untuk minta perpanjangan waktu guna menambahkan keindahan pahatannya dengan berbagai cat warna dan logam mulia lainnya.. maka pihak Kerajaan memberikan waktu sesuai permintaan Pemahat Pertama.
Berhari-hari.. berminggu-minggu.. hingga hitungan bulan Pemahat Pertama terus memperindah pahatannya hingga merasa bahwa saingannya si Pemahat Kedua tidak bisa menandingi keindahan pahatannya. Waktu yang disepakati telah usai.. tirai kain tebal dibuka.. maka.. gemparlah para yang hadir demi melihat hasil kerja mereka berdua.. namun tak kalah bingungnya adalah Pemahat Pertama akan hasil kerja saingannya.. Pemahat Pertama dengan mulut ternganga, melihat dinding diseberangnya, lagi-lagi memancarkan hasil kerja yang lebih indah dan mengagumkan. Dan.. lagi-lagi Pemahat Pertama minta waktu untuk memperindah pahatannya.. diberikanlah waktu sesuai kesepakatan.. sekali lagi tirai penyekat dibukanya.. dan.. timbul lagi kegemparan akan hasil Pemahat Kedua yang menurut mereka lebih indah dari Pemahat Pertama.. namun.. tahukah kamu semua..? ternyata.. Pemahat Kedua sesungguhnya tidak membuat pahatan maupun relief, dia hanya meratakan dan menghaluskan tembok batu mulia dindingnya itu secermelang mungkin mirip cermin.. ya hanya itu yang dilakukan.. setiap kali tirai kain tebal dibuka, maka sempurnalah cermin itu memantulkan hasil pahatan Pemahat Pertama dengan lebih indah karena kemilau cermin yang dibuatnya.
Togog:”Itu tadi cerita yang aku adaptasi dari novelnya Tere Liye yang berjudul Rembulan Tenggelam Di Wajah-Mu.. novelnya sangat indah dan menggetarkan hati.. novel yang bercerita tentang hidup dan kehidupan..”
mBilung:”Betul-betul cerita yang sarat pembelajaran.. dari cerita tadi terlihat bahwa Pemahat Pertama begitu berambisi mengalahkan Pemahat Kedua.. begitu konyolnya Pemahat Pertama.. dan tentunya keterlaluan pula bodohnya..”
Togog:”Iya.. memang.. malahan dalam novel tersebut diceritakan bahwa Pemahat Pertama itu diibaratkan sebagai orang-orang yang sangat keterlaluan mencintai dunia.. tak akan puas-puasnya akan apa yang diperolehnya dan selalu iri akan apa yang diperoleh orang lain.. sedang Pemahat Kedua diibaratkan sebagai orang bijak.. orang-orang yang selalu berhasil menghaluskan hatinya bagai cermin.. dan orang-orang seperti inilah yang bisa merasakan kebahagiaan melebihi orang-orang terkaya manapun..”
Cangik:”Gog.. kok cerita tadi mirip Matsnawi-nya Rumi yang pernah aku baca.?”
Togog:”Kamu bener.. aku juga pernah baca itu.. kelihatannya Tere Liye buat cerita itu karena terinspirasi Matsnawi-nya Rumi.. Rumi berpendapat bahwa Pemahat Kedua itu ibarat Para Sufi.. coba dengarkan penggalan Matsnawi yang kamu maksud tentang Pemahat Kedua.. Mereka berilmu tanpa belajar, tanpa buku, tanpa kutbah.. Tetapi mereka telah menyucikan hati dari rakus, nafsu, tamak dan benci.. Tidak diragukan lagi, cermin bersih itulah hati yang menerima citra-citra tak berjumlah..”
Cangik:”Terus.. bagaimana caranya agar hati kita ini selalu bercahaya..?”
Togog:”Menurut Imam al Ghazali.. cahaya atau nur dari hati itu akan tampak, jika hati itu selalu dibersihkan dan disucikan dari sifat-sifat tercela.. orang-orang yang demikian akan mendapatkan yang mulanya ragu tentang makna-makna yang luas dan tidak jelas, menjadi jelas.. orang-orang tersebut akan mencapai suatu kedudukan yang tinggi, yaitu makrifat yang hakiki mengenai Allah, sifat-sifat Allah dan hukum-hukum Allah.. itulah yang disebut ilmu batin.. yaitu puncak segala ilmu..”
Limbuk:”Lha.. ciri-ciri orang yang sudah sampai pada kedudukan ilmu itu apa..?”
Togog:”Wuah buaaanyak.. contohnya.. dapat membedakan antara yang halal dan haram maupun yang manfaat dan mudharat, dapat mengetahui hakikat ayat-ayat yang ada dikitab suci maupun yang terhampar pada alam semesta maupun kehidupan sehari-hari, dapat terhindar dari tipu daya, kelicikan dan olok-olok duniawi, dapat memberikan kemudahan dalam berinteraksi, beradaptasi dan bersosialisasi.. dan masih banyak lagi.. Aku tidak hapal..”
Ki Dalang:”Ha.. haa.. haaa..! dongengmu tentang cermin menarik perhatianku.. udah banyak cermin terserak dimana-mana..! dirumahmu..! dimobilmu..! dimotormu..! dikantormu..! bahkan di-bus kota dan di-angkot-mu juga ada cermin..! tapi pernahkah kamu semua ini bercermin diri..? melihat refleksi dirimu sendiri..? siapakah dirimu itu..? ayo mana cerminmu..? jangan ngomong saja..!?”
Togog:”Iya Dal.. Iya.. kata-katamu mengingatkanku pada sosok Jacques Lacan ahli psikoanalisis Perancis yang hidup antara tahun 1901 sampai 1981.. beliau mengatakan, bahwa bila cermin tidak ada dihadapan kita, dan kita tidak bisa bercermin diri, maka bahasa-lah yang akan senantiasa menggantikan atau mengikutinya.. artinya, kita ini atau diri ini sebetulnya adalah apa yang orang-orang katakan kepada kita.. kalau kita ini kurus, maka orang-orang akan mengatakan kita ini kurus.. kalau kita ini jerawatan, maka orang-orang akan mengatakan kita ini berjerawat.. kalau kita ini mukanya penuh bisul dan borok, maka orang-orang akan mengatakan kita ini mukanya penuh bisul dan borok.. demikian juga kalau kita ini bertindak sebagai begundal, maka orang-orang akan mengatakan kita ini begundal.. kalau kita ini bertindak sebagai bajingan, maka orang-orang akan mengatakan kita ini ya bajingan.. demikian juga kalau kita ini koruptor yang tidak sadar bahwa kita ini sebetulnya koruptor, ya orang-orang akan mengatakan sejujurnya bahwa kita ini ya koruptor yang keterlaluan..!”
mBilung:”Iya.. Aku setuju.. cermin akan selalu jujur merefleksikan diri kita.. hanya.. kita tak pernah sadar bahwa cermin itu suka bercanda.. cermin akan bercanda, yang kanan dikatakan kiri, yang kiri dikatakan kanan.. dan ingat.. jangan bermain-main dengan cermin retak.. Aku pernah baca novelnya Agatha Christie tentang Cermin Retak, yang judul aslinya The Mirror Crack’d from Side to Side.. gara-gara ada seorang saksi melihat bayangan dalam cermin retak, maka orang disisi tempat lain terlihat dalam cermin retak tersebut berada dekat seseorang yang terbunuh.. orang yang disisi lain tersebut disangkakan menjadi pembunuh.. jadi.. cermin retak bisa mendatangkan fitnah dan bisa salah dalam merefleksikan diri seseorang..”
Ki Dalang:”Makanya.. pasang cermin yang tak retak disetiap sudut rumah maupun kantormu.. sehingga kamu semua selalu bisa sempurna bercermin diri.. bisa sempurna berefleksi diri.. agar tidak dikatain orang-orang.. agar tidak dibacain orang-orang..!”
Togog:”Dal.. kata-katamu itu metafora yang sangat indah.. Aku setuju.. Sehingga kita-kita ini bisa berbenah diri.. bukankah tidak ada kata terlambat untuk membersihkan dan mensucikan hati dari sifat-sifat tercela..? Aku jadi teringat penggalan puisinya Aa’ Gym yang berjudul Bercermin Diri.. dengarkan dan simak baik-baik..
Sungguh.. betapa beda antara yang nampak di cermin dengan apa yang tersembunyi.. betapa aku telah tertipu oleh topeng.. betapa yang kulihat selama ini hanyalah topeng.. hanyalah seonggok sampah yang terbungkus topeng-topeng duniawi..”
| < Prev | Next > |
|---|


